Ada yang dibuat dengan sangat teliti, ada pula yang sangat sederhana. Ada yang berwarna warni, namun ada pula yang dominan dengan satu dua warna. Secara umum, gambar cadas yang dibuat manusia purba di dinding-dinding gua dapat berupa gambar outline atau bergaris, berbentuk sosok, atau menggambarkan seluruh bagian benda yang digambar secara lengkap.
Gambar cadas sebagai bagian dari rock art hampir ditemukan di berbagai kebudayaan purba, dari Eropa, Asia, hingga Australia. Masing-masing wilayah biasanya memiliki kekhasan sendiri. Di Eropa, gambar hewan sering digambar dengan warna-warni indah dan besar, tapi di Afrika Selatan digambar dengan ukuran yang kecil meskipun detail. "Bahkan di Australia ada yang mengambarkannya dengan gaya sinar-X, di mana anggota badan bagian dalam juga turut digambar," kata Karina Arifin, peneliti arkeologi dari Universitas Indonesia, pada Rock Art Exhibition yang diadakan oleh Majalah National Geographic di Plaza Semanggi, Sabtu (21/1).
Di Indonesia, gambar cadas banyak ditemukan di wilayah Indonesia timur, dari Papua, Kepulauan Aru, Seram, NTT, Sulawesi, dan baru-baru ini di Kalimantan. Sulit membayangkan apakah mereka saling berkomunikasi sehingga memiliki intuisi untuk menorehkan gambar.
Apakah ini sebuah naluri manusia yang mendunia? Menurut Pindi Setiawan, peneliti seni rupa dari ITB, gambar cadas merupakan rekaman buah pikiran manusia tentang kehidupannya saat itu sehingga berfungsi sosial dan bertafsir adat. Gambar-gambar tersebut tidak dibuat asal jadi, namun mengikuti pola tertentu.
Peneliti Perancis telah menganalisis bahwa warna gelap umumnya dipakai untuk membuat cap tangan seorang wanita, sedangkan cap tangan laki-laki menggunakan warna lebih terang. Mereka melihatnya dari perbedaan panjang jari manis dan telunjuk - wanita memiliki panjang jari telunjuk sama dengan jari manis, sedangkan pria memiliki jari manis lebih panjang.
Hampir di setiap situs gambar cadas di dunia ditemukan cap tangan. Cap tangan terbanyak sekitar 350 buah ditemukan di Gua Ham, kalimantan. Salah satu deretan cap tangan di sana juga memiliki keunikan. Sebab, di bagian dalamnya digambarkan titik, garis, dan simbol yang saling dihubungkan dengan garis. Kemungkinan gambar-gambar cadas ini menggambarkan budaya masyarakat saat itu. "Jika budayanya zamani, berarti ada musik, tarian, atau aktifitas lainnya," kata Pindi yang juga anggota tim peneliti Kalimanthrope. Meskipun di kalimantan belum ditemukan berbagai artefak pendukug, pada gua-gua di Eropa ditemukan seruling.
Pada dinding gua di Teluk berau dan Teluk Bitsari, Papua, misalnya, ditemukan gambar bumerang, senjata asli suku Aborigin. "Mungkin saja penduduk Australia purba telah menyeberang ke Papua 10 ribu tahun lalu, sebab kedua wilayah disatukan oleh Dataran Sahul," kata Karina.
Meskipun belum dapat dipastikan secara ilmiah, pengukuran umur pewarna yang dipakai sedikit banyak dapat menjadi petunjuk mengetahui penyebaran manusia purba. Menurut Karina, saat ini baru peta persebaran yang tersedia ---belum semua tempat berhasil diidentifikasi---, namun pengukuran umur belum dilakukan sehingga arah penyebarannya belum diketahui.
Pewarna purba
Gambar cadas memang masih penuh misteri. Menyimak dan menelitinya memang menarik dan masih membutuhkan penelitian yang panjang. Tapi, yang lebih menarik, manusia purba telah paham untuk memakai pewarna yang relatif sangat tahan lama sehingga dapat bertahan selama puluhan ribu tahun.
Belakangan diketahui bahwa pewarna merah dari hematit (besi oksida) yang banyak dipakai penduduk purba merupakan sumber warna paling kuat. Menurut Dougal Dizon, hematit adalah jenis batuan yang terdapat dalam batuan kapur dengan kekerasan 5,5 hingga 6,5 dan grafitasi 4,9 hingga 5,3.
Hal inilah yang membangkitkan minat Achmad Sopandi, peneliti pewarna purba dari Universitas Negeri Jakarta untuk membuat Eco-color Sopandi. Produk pewarna ramah lingkungan yang meniru ramuan purba tersebut seluruhnya menggunakan sumber bahan baku alami. Pewarna merah tidak harus dari batu hematit. Bisa digunakan tanah merah atau pewarna apapun yang mengandung besi dicampur lemak hewan atau tumbuhan. Untuk pewarna hitam, digunakan arang kelapa dicampur air kelapa, warna putih digunakan santan dicampur kapur sirih. Membuat goresan pun tak perlu kuas buatan pabrik, cukup batang bambu yang ujungnya ditumbuk. Nilai artistik dari jaman prasejarah telah dihadirkan kembali olehnya menghiasi dinding-dinding di Saga City, Jepang. Hasil goresannya juga dipajang di Hospital Perak, Malaysia dan sedang diteliti oleh para ahli kesehatan jiwa sebagai bentuk terapi.
"Kata para dokter di sana, hampir setiap hari ada penderita penyakit jiwa yang datang untuk mengamatinya," kata Sopandi. Jika penelitian tersebut berhasil, benarlah bahwa warna adalah salah satu sarana pengobatan sejak jaman purba.
Selain itu, pewarna purba memang dipilih karena memiliki taksu, memiliki daya hidup, magis, dan karismatik. Bukan tidak mungkin, pewarna alami yang dulu hadir pada dinding-dinding gua juga hadir di sekitar lingkungan Anda.
(Sumber:Kompas Cyber Media)
Sunday, September 16, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment